Minggu, 11 Januari 2026

Hidupku seperti Sebuah Kapal (Chapter 2)

Februari 2014 chapter 1 aku tulis.
Februari 2026 chapter 2 aku tulis

Kali ini kapalku berada di persimpangan pilihan. Apakah aku akan menurunkan orang lagi atau aku pindahkan ke ruangan lain.

12 tahun tulisan tentang kapal ini aku buat. Kali ini aku melanjutkan cerita perjalanan kapalku kembali. Banyak hal yang sudah terjadi. Ada badai dan gelombang, tapi kapal ini kuat. Pemilik kapal mengizinkanku membangun beberapa ruangan baru, menambah kekuatan mesinku, mengganti banyak bagian yang usang dengan yang baru supaya aku bisa tetap keep up dengan perubahan dunia. 

Pernah sekali ada badai besar dan Tuhan berikan aku seseorang yang menemaniku di ruang kemudi untuk melewati badai itu. Beberapa kali aku lewati gelombang besar di ruangan keluarga dan sahabat. Terkadang aku di dalam ruang kemudiku sendiri dan hanya berkomunikasi dengan pemilik kapalku.

Aku tidak tahu berapa lama kapalku ini akan terus berlayar dan siapa saja yang akan aku temui di dalam perjalananku. Tapi, perjalananku kali ini dipertemukan dengan seseorang yang special di hatiku. Aku menikmati setiap moment bersamanya meskipun terkadang dia sangat menyebalkan.

Tapi hubungan ini pun sedang diuji dan aku dalam kondisi patah hati dan galau. Aku belajar:
  1. Tuhan selalu menunjukkan jalan dan selalu kasih tanda, apakah kita mau cukup peka atau tidak. Dan Aku tahu Tuhanku teramat baik, meskipun sudah berulang kali aku bawa hati yang hancur padanya, selalu Dia terima dan pulihkan. He never leaves me alone.
  2. Memaksakan kehendak hanya akan semakin melukai. Lebih baik terluka di awal dan pulih perlahan daripada berpura-pura untuk menghindari rasa sakit, tetapi pada akhirnya kehilangan diri sendiri karena terus berpura-pura.
  3. Heal yourself first before you help others. Aku ga sanggup menolong orang lain kalau aku sendiri pun tidak baik-baik saja.
  4. Merelakan dan ikhlas meskipun terasa sayang untuk semua yang sudah dilalui. Tidak semua yang aku mau bisa jadi milikku. Kalau ada hak orang lain yang terabaikan karena keinginanku, aku tidak sanggup melukai orang lain karena keegoisanku.
  5. Tidak usah memaksakan diri untuk cepat pulih. Jalani prosesnya supaya benar-benar sembuh dan ingat lukanya. Kalau ada bekasnya juga tidak mengapa, terima saja.

Yang pasti kapalku harus berlayar ke tujuan, ada lecet atau rusak sedikit karena karang yang aku terabas, perbaiki. Jangan berhenti atau stuck. Jalan lagi perlahan. Kapalku ga sempurna tapi pemilikku bangga memberikan kapal ini padaku.

Selasa, 06 Januari 2026

A Wishful Thinking

5 Januari 2026

Tidak pernah terbayangkan akan merasakan hati sesakit itu tapi sekaligus seikhlas itu.

Selama ini aku selalu meminta berhenti dengan penuh marah karena aku tahu aku benar dan aku menghindari rasa sakit di kemudian hari. Rasa marah menjadi tameng dan kekuatanku untuk bertahan. Ditambah pembelaan dan usaha dia yang ga berhenti membuatku seperti tidak ada yang hilang, hanya egoku saja yang aku beri makan. 

Tapi ketika aku merasa bahwa dia pun sudah berusaha dan akhirnya ikhlas, semua tameng yang aku bangun runtuh. Sehancur dan sesakit itu hatiku. Menyadari kalau dia tidak akan ada lagi di hidupku, aku merasa ada yang benar-benar hilang. 

Mungkin hanya rasa, bertahun-tahun selalu ada dia, sekarang harus membangun lagi dari awal. asing dengan rasa sendiri ini. Tapi harus belajar ikhlas. Harga belajarku mahal dan tidak ingin mengulangi lagi. Inilah patah hati yang aku pilih, versi aku.

Still deep down in my heart, a wishful thinking. Bisakah kita mulai dari awal dengan jujur dan versi terbaik diri kita masing-masing? Bisakah aku tetap bersamanya? Akan selalu ada doa yang terselip untuknya.

Saat ini, aku hanya mau menikmati Tuhan, menjalani proses yang Tuhan ijinkan di jalan yang benar saja. Berhenti melawan arus yang melelahkan. Membiarkan damai Tuhan yang mengisi bagian yang hilang. Percaya bahwa Tuhan sediakan yang terbaik buatku dan buatnya.

A wishful thinking..Hope to come true.