Rabu, 31 Desember 2025

Rekap 2025-ku

 31 Januari 2025

Hari terakhir di tahun 2025. Biasa akan diisi dengan acara meriah dan resolusi.

Tahun ini di Jakarta akan sedikit berbeda, himbauan tidak ada kembang api sebagai bentuk empati atas bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia yang terkena bencana. Jadi Jakarta yang sedikit "introvert" supaya tidak terlalu tampak kesenjangan. 

Rasanya Jakarta di akhir tahun ini bisa aku nikmati dengan tenang tanpa kemeriahan dan berisik yang lebih sesuai denganku.

Mari refleksi 2025.

1. Maret bulan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasa bulan Maret itu indah buatku karena sudah membayangkan libur ulangtahun. Tapi, tahun ini, Maret menjadi kelabu karena mama harus operasi di kepala. Tapi tetap bersyukur karena support system yang baik. Tetap bisa ke Singapore menikmati Birthday Leave

2. April aku berhenti melayani Sekolah Minggu. Pelayanan yang sudah aku kerjakan sejak 2005 dan akhirnya perlahan semua pelayanan pun tidak diambil lagi. 

3. Aku mulai menikmati ibadahku di gereja yang tidak ada drama. Tidak perlu melihat bobroknya sistem dan pengurusan internal. Nikmati jadi jemaat saja.

4. Batal pindah kerja, padahal sudah di depan mata. Memang semua rencana Tuhan. Less guilty setelah makin ke sini melihat semua peristiwa yang terjadi. Mama sakit, bencana alam, pemerintahan menjadi-jadi. Kalau pindah, cerita akan berbeda

5. Akhir tahun dengan hubungan yang melelahkan. BERHENTI. Entah sesaat atau selamanya, hanya Tuhan yang tahu. Sudah terlalu menumpuk dan aku capek bertahan.

That's all big things in my life. Detail??? Maybe later.



Rabu, 19 November 2025

Bersyukur Melihat Penderitaan

Tempat dan Waktu biar Tuhan dan Saya yang tahu.

Rasa syukur yang luar biasa muncul ketika sibuk mengurusi orang sakit.
Lelah... sudah pasti tapi puji Tuhan kekuatan selalu ada karena sumbernya adalah kasih karunia Tuhan.

Bersyukur mengenal Yesus yang adalah kasih sehingga sumber dari semua kebaikan yang bisa aku berikan adalah Kasih Tuhan.

Bersyukur Tuhan sumber hikmat sehingga semua keputusan yang diambil karena Tuhan baik.

Bersyukur berada di lingkungan yang baik karena perlindungan Tuhan, malaikat yang selalu berjaga-jaga.

Hanya syukur yang bisa aku rasakan meskipun datangnya karena melihat penderitaan orang lain. Aku tidak perlu mengalami semua itu karena aku masih dipelihara, dijaga, dipegang erat oleh Tuhan. 

Thank You, Jesus.

Kiranya Tuhan yang kasih kekuatan buat mereka yang menderita, mereka yang kesusahan, mereka yang merindukan kasih.
Penyertaan sempurna buat semua yang Tuhan pakai untuk menceritakan kemuliaan Tuhan.
Berdoa khusus buat dia yang aku sayangi..kaki retak pun harus kuat dan bersyukur. Tuhan pulihkan segera.
Buat kamu yang jiwanya sedang rapuh. Tuhan cabut semua akar-akar dosa pohon itu dan pulihkan jiwa yang kacau menjadi jiwa penuh damai sejahtera Tuhan.

I love You, Jesus. Thank You for choosing me.

Senin, 13 Oktober 2025

Rumah atau Coffee Shop

 12 Oktober 2025

Tak bisa tidur dan kepala penuh.. mari dituangkan.

Teringat pada statement, "Kamu seperti rumah buatku".

Benarkah rumah? atau cuma persinggahan yang nyaman sesaat saja?

Aku membayangkan rumah yang ideal yang selalu aku impikan.

Rumah yang nyaman, bersih dan terawat. Rumah yang hangat. Rumahku mungkin tidak semewah rumah yang lain. Tidak sebesar dan secanggih rumah di kawasan elit. rumahku hanya rumah sederhana yang nyaman dan cukup untukku.

Rumah yang dirawat, diisi perabotan yang sesuai, butuh membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai supaya tidak menjadi sampah dan beban. Mungkin banyak barang yang sesekali berantakan, tapi masih terasa nyaman.

Sesekali rumahku bisa bocor dan harus ditambal, kadang AC-nya tidak dingin dan harus dibersihkan. Aku jaga supaya tidak berayap dengan perawatan terbaik. Ada biaya yang aku keluarkan untuk menjaga rumah ini tetap nyaman dan kuat untuk aku tinggali sampai akhir hidupku dan bahkan bisa aku wariskan untuk jadi tempat ternyaman orang tersayangku. Biaya yang aku keluarkan sebagai investasi tapi untuk jangka panjang untuk menjaga tempat ternyamanku

Harusnya ini rumah. Butuh effort untuk menjaganya tetap nyaman untuk tempatku pulang. Effort yang sebanding dengan kenyamanan yang aku dapat. Aku bisa melakukan apa saja yang aku suka di dalam rumahku. Apa saja. Kalau aku sedang tidak ingin melakukan apapun, aku bisa hanya tidur dan berdiam diri saja di sana, tak ada yang akan menggangguku.


Tapi nyatanya tempat yang dipikir rumah hanya persinggahan seperti coffee shop.

Tampilannya bisa seperti rumah, tapi ketika aku masuk, rasanya asing. Nyaman untuk sesaat tapi tidak bisa menetap lama.

Untuk menikmati kenyamanan coffee shop ini aku membayar segelas minuman. Tapi, aku tidak bisa meminta bau ruangan yang aku suka, aku tidak boleh mengganti tata letaknya, aku tidak bisa berlama-lama juga di sana karena ada batas waktunya. Jika ingin berlama-lama dan terus mendapatkan kenyamanan ini, aku harus terus membayar. Tapi seberapa lama aku bisa di sana? Karena akhirnya yang aku mau adalah pulang ke rumah yang aku upayakan dengan tanganku sendiri.

Nyaman tapi tidak bisa berlama-lama... hotel yang mungkin paling mirip dengan rumah. Tapi tetap saja bukan rumah. Aku hanya punya 1 ruangan. Awalnya nyaman tapi lama-lama aku bosan.Aku tidak bebas melakukan apapun yang aku suka. Dan yang pasti aku menghabiskan uangku untuk sesuatu yang tidak dapat aku nikmati selamanya.


Pada akhirnya rumah adalah tempat ternyamanku dan aku bisa pulang tanpa beban.

Tapi ini bukan tentang aku dan rumahku. Aku mungkin kamu anggap rumah tapi rumah yang tidak kamu usahakan dan lama-lama menjadi kusam dan tidak nyaman. Dingin dan hampa.

Aku ingin kembali ke rumah tapi ternyata kamu hanya coffee shop. I pay and spend my money to feel comfort for a while and at the end of the day, I don't fell like home. I want to go home.