Selasa, 06 Januari 2026

A Wishful Thinking

5 Januari 2026

Tidak pernah terbayangkan akan merasakan hati sesakit itu tapi sekaligus seikhlas itu.

Selama ini aku selalu meminta berhenti dengan penuh marah karena aku tahu aku benar dan aku menghindari rasa sakit di kemudian hari. Rasa marah menjadi tameng dan kekuatanku untuk bertahan. Ditambah pembelaan dan usaha dia yang ga berhenti membuatku seperti tidak ada yang hilang, hanya egoku saja yang aku beri makan. 

Tapi ketika aku merasa bahwa dia pun sudah berusaha dan akhirnya ikhlas, semua tameng yang aku bangun runtuh. Sehancur dan sesakit itu hatiku. Menyadari kalau dia tidak akan ada lagi di hidupku, aku merasa ada yang benar-benar hilang. 

Mungkin hanya rasa, bertahun-tahun selalu ada dia, sekarang harus membangun lagi dari awal. asing dengan rasa sendiri ini. Tapi harus belajar ikhlas. Harga belajarku mahal dan tidak ingin mengulangi lagi. Inilah patah hati yang aku pilih, versi aku.

Still deep down in my heart, a wishful thinking. Bisakah kita mulai dari awal dengan jujur dan versi terbaik diri kita masing-masing? Bisakah aku tetap bersamanya? Akan selalu ada doa yang terselip untuknya.

Saat ini, aku hanya mau menikmati Tuhan, menjalani proses yang Tuhan ijinkan di jalan yang benar saja. Berhenti melawan arus yang melelahkan. Membiarkan damai Tuhan yang mengisi bagian yang hilang. Percaya bahwa Tuhan sediakan yang terbaik buatku dan buatnya.

A wishful thinking..Hope to come true.

Rabu, 31 Desember 2025

Rekap 2025-ku

 31 Januari 2025

Hari terakhir di tahun 2025. Biasa akan diisi dengan acara meriah dan resolusi.

Tahun ini di Jakarta akan sedikit berbeda, himbauan tidak ada kembang api sebagai bentuk empati atas bencana yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia yang terkena bencana. Jadi Jakarta yang sedikit "introvert" supaya tidak terlalu tampak kesenjangan. 

Rasanya Jakarta di akhir tahun ini bisa aku nikmati dengan tenang tanpa kemeriahan dan berisik yang lebih sesuai denganku.

Mari refleksi 2025.

1. Maret bulan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasa bulan Maret itu indah buatku karena sudah membayangkan libur ulangtahun. Tapi, tahun ini, Maret menjadi kelabu karena mama harus operasi di kepala. Tapi tetap bersyukur karena support system yang baik. Tetap bisa ke Singapore menikmati Birthday Leave

2. April aku berhenti melayani Sekolah Minggu. Pelayanan yang sudah aku kerjakan sejak 2005 dan akhirnya perlahan semua pelayanan pun tidak diambil lagi. 

3. Aku mulai menikmati ibadahku di gereja yang tidak ada drama. Tidak perlu melihat bobroknya sistem dan pengurusan internal. Nikmati jadi jemaat saja.

4. Batal pindah kerja, padahal sudah di depan mata. Memang semua rencana Tuhan. Less guilty setelah makin ke sini melihat semua peristiwa yang terjadi. Mama sakit, bencana alam, pemerintahan menjadi-jadi. Kalau pindah, cerita akan berbeda

5. Akhir tahun dengan hubungan yang melelahkan. BERHENTI. Entah sesaat atau selamanya, hanya Tuhan yang tahu. Sudah terlalu menumpuk dan aku capek bertahan.

That's all big things in my life. Detail??? Maybe later.



Rabu, 19 November 2025

Bersyukur Melihat Penderitaan

Tempat dan Waktu biar Tuhan dan Saya yang tahu.

Rasa syukur yang luar biasa muncul ketika sibuk mengurusi orang sakit.
Lelah... sudah pasti tapi puji Tuhan kekuatan selalu ada karena sumbernya adalah kasih karunia Tuhan.

Bersyukur mengenal Yesus yang adalah kasih sehingga sumber dari semua kebaikan yang bisa aku berikan adalah Kasih Tuhan.

Bersyukur Tuhan sumber hikmat sehingga semua keputusan yang diambil karena Tuhan baik.

Bersyukur berada di lingkungan yang baik karena perlindungan Tuhan, malaikat yang selalu berjaga-jaga.

Hanya syukur yang bisa aku rasakan meskipun datangnya karena melihat penderitaan orang lain. Aku tidak perlu mengalami semua itu karena aku masih dipelihara, dijaga, dipegang erat oleh Tuhan. 

Thank You, Jesus.

Kiranya Tuhan yang kasih kekuatan buat mereka yang menderita, mereka yang kesusahan, mereka yang merindukan kasih.
Penyertaan sempurna buat semua yang Tuhan pakai untuk menceritakan kemuliaan Tuhan.
Berdoa khusus buat dia yang aku sayangi..kaki retak pun harus kuat dan bersyukur. Tuhan pulihkan segera.
Buat kamu yang jiwanya sedang rapuh. Tuhan cabut semua akar-akar dosa pohon itu dan pulihkan jiwa yang kacau menjadi jiwa penuh damai sejahtera Tuhan.

I love You, Jesus. Thank You for choosing me.

Senin, 13 Oktober 2025

Rumah atau Coffee Shop

 12 Oktober 2025

Tak bisa tidur dan kepala penuh.. mari dituangkan.

Teringat pada statement, "Kamu seperti rumah buatku".

Benarkah rumah? atau cuma persinggahan yang nyaman sesaat saja?

Aku membayangkan rumah yang ideal yang selalu aku impikan.

Rumah yang nyaman, bersih dan terawat. Rumah yang hangat. Rumahku mungkin tidak semewah rumah yang lain. Tidak sebesar dan secanggih rumah di kawasan elit. rumahku hanya rumah sederhana yang nyaman dan cukup untukku.

Rumah yang dirawat, diisi perabotan yang sesuai, butuh membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai supaya tidak menjadi sampah dan beban. Mungkin banyak barang yang sesekali berantakan, tapi masih terasa nyaman.

Sesekali rumahku bisa bocor dan harus ditambal, kadang AC-nya tidak dingin dan harus dibersihkan. Aku jaga supaya tidak berayap dengan perawatan terbaik. Ada biaya yang aku keluarkan untuk menjaga rumah ini tetap nyaman dan kuat untuk aku tinggali sampai akhir hidupku dan bahkan bisa aku wariskan untuk jadi tempat ternyaman orang tersayangku. Biaya yang aku keluarkan sebagai investasi tapi untuk jangka panjang untuk menjaga tempat ternyamanku

Harusnya ini rumah. Butuh effort untuk menjaganya tetap nyaman untuk tempatku pulang. Effort yang sebanding dengan kenyamanan yang aku dapat. Aku bisa melakukan apa saja yang aku suka di dalam rumahku. Apa saja. Kalau aku sedang tidak ingin melakukan apapun, aku bisa hanya tidur dan berdiam diri saja di sana, tak ada yang akan menggangguku.


Tapi nyatanya tempat yang dipikir rumah hanya persinggahan seperti coffee shop.

Tampilannya bisa seperti rumah, tapi ketika aku masuk, rasanya asing. Nyaman untuk sesaat tapi tidak bisa menetap lama.

Untuk menikmati kenyamanan coffee shop ini aku membayar segelas minuman. Tapi, aku tidak bisa meminta bau ruangan yang aku suka, aku tidak boleh mengganti tata letaknya, aku tidak bisa berlama-lama juga di sana karena ada batas waktunya. Jika ingin berlama-lama dan terus mendapatkan kenyamanan ini, aku harus terus membayar. Tapi seberapa lama aku bisa di sana? Karena akhirnya yang aku mau adalah pulang ke rumah yang aku upayakan dengan tanganku sendiri.

Nyaman tapi tidak bisa berlama-lama... hotel yang mungkin paling mirip dengan rumah. Tapi tetap saja bukan rumah. Aku hanya punya 1 ruangan. Awalnya nyaman tapi lama-lama aku bosan.Aku tidak bebas melakukan apapun yang aku suka. Dan yang pasti aku menghabiskan uangku untuk sesuatu yang tidak dapat aku nikmati selamanya.


Pada akhirnya rumah adalah tempat ternyamanku dan aku bisa pulang tanpa beban.

Tapi ini bukan tentang aku dan rumahku. Aku mungkin kamu anggap rumah tapi rumah yang tidak kamu usahakan dan lama-lama menjadi kusam dan tidak nyaman. Dingin dan hampa.

Aku ingin kembali ke rumah tapi ternyata kamu hanya coffee shop. I pay and spend my money to feel comfort for a while and at the end of the day, I don't fell like home. I want to go home.




Minggu, 20 Oktober 2024

Diam

 20 October.

Pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2024 - 2029. Bpk. Prabowo dan Gibran.


Aku duduk diam sendirian di coffee shop langgananku setiap kali harus menunggu setelah pulang dari gereja. Kupesan latte, sedikit beda dari pesanan biasaku.. long black.

Terik panas matahari jam 12 siang. Mobil lalu lalang. Aku lurus memandang ke arah orang-orang yang keluar masuk minimarket di seberang coffee shop. Semua sibuk beraktivitas. Pandanganku tidak fokus. Melamun dan melihat dengan pikiran kosong.

1 jam tanpa HP karena kutitipkan ke kasir untuk charge. Aku lupa membawa charger dan baterai HP sudah sekarat, padahal aku masih menunggu mekanik datang. Mobilku mogok. Ini sudah kedua kali di kondisi dan waktu yang sama. Aki tidak menyala pada saat mau pulang gereja. Bedanya kali ini tidak ada lanjutan kegiatan lain yang buru- buru. Ini menjadi moment pause langka tanpa HP. Hal yang sudah jarang terjadi sama anak-anak zaman now yang tidak bisa lepas dari gadget.

Lahir di masa HP baru muncul dan punya satu saat sudah kuliah membuatku biasa saja saat tidak pegang HP. Canggung sedikit tapi I'll survive. Moment diam, kosongin pikiran, jauh dari sosmed, jauh dari cahaya gadget.

Tapi.. diam bukan diriku dan bukan pilihanku. Otakku tidak mau kompromi. Doing nothing supposed to be a good thing once a while, tapi aneh aja buatku. Ga bertahan lama masa-masa diam dan bengongku. Aku acak-acak isi tasku mencari pulpen. Aku bongkar dompet berharap menemukan media buat menulis. 

Era modern menjauhkan aku dari kertas dan pencil yang biasa selalu ada di tasku. Secarik bon lama dari belanjaku yg terselip di dompet menyelamatkanku dari rasa bosanku. Ayo menulis dan keluarkan isi kepalaku.

First.. planning. Jangan pernah tidak bawa charger atau at least bawa HP lainnya. Tablet atau notepad, dipakai atau tidak, bawa saja. Diam bukan opsi otakku yang aktif. Bagaimana bisa tinggal di Bali dengan niat menenangkan diri kalau duduk diam sebentar saja sudah bosan😅

Saat aktif ingin diam. Saat diam ingin aktif.

Uniknya, kali ini otakku tidak merancangkan drama. Pikiran yang biasa muncul di kepalaku kalau aktif tak terkontrol adalah drama putusin pacar😅

Pandangku kembali tertuju ke minimarket di seberang karena itu pemandangan utama dari tempat dudukku. Ada badut yang berdiri di depan pintu. 3 jam aku duduk, si badut berdiri tanpa lelah, memegang kaleng uang dengan tulisan yang tak jelas terbaca olehku. Badut setia, menunggu dengan konsisten, berharap belas kasihan pelanggan minimarket yang keluar masuk, membukakan dan menahan pintu, akan memberikan uang. Sesekali ada yang memberikan uang, mungkin kembalian dari belanja. Mungkin rasa iba, si badut mendapat saweran.

Mataku mulai lelah karena silau matahari. Efek kafein mulai terasa. Jantung berdetak cepat, mulai gelisah, perut juga bereaksi, untung sudah sarapan. Tapi kembali aku hanya..Diam.

Mekanik datang, diamku pun selesai.

Sabtu, 04 Mei 2024

Dampak The Architecture Of Love

 4 Mei 2024

Kencan dengan om yang selalu dengan opsi paling sederhana dan ga menguras banyak energy yaitu nonton. Kali ini pilihan film jatuh pada 'The Architecture Of Love (TAOL)'. Film adaptasi dari novel Ika Natasha.

Aku iyakan karena memang dari awal sudah tertarik sama film ini. Pertama karena pemainnya Nicolas Saputra dan Putri Marino pastinya. Kedua, karena film ini adaptasi dari novel tadi yang sudah bukan rahasia kalau Ika Natasha sudah menghasilkan karya yang bagus-bags, seperti Critical Eleven, Twivortiare, dsb.

Besides, memang ini film yang paling mending dari yang lagi tayang saat ini. Mostly film horror yang sudah pasti aku hindari banget kalau bukan terpaksa karena si om ngebet banget mau nonton. Kalau pun nonton yakarena supaya bisa spent time sama om aja. Kamau ditanya enjoy atau ga... ya sudah pasti ngak.

Selain itu juga... ini moment until bisa berdua sama om setelah ngambekan gw yang berkepanjangan, ya hitung-hitung menghargai upaya dia untuk menyenangkan aku, memperbaiki hubungan, atau modus lainnya.

Tapi dampak dari film ini membuat aku ingin bisa menulis dan bikin novel Dan bisa dijadikan film juga suatu hari.

Yes.. Dari dulu aku suka menulis. Harusnya bisa ya.. Karena banyak kisah dalam hidup yang bisa dituliskan. Sama seperti komik yang mengahsilkan karya dari kegelisahan, hsrusnya penulis pun adapt inspirasi dari kegelisahan.

Aku butuh belajar menulis supaya setiap ceritaku menarik dan enak dibaca, bukan sekedar seperti diari saja. Cerita yang seolah berbicara . Oooo... pengen banget bisa mahir menulis. Di sela bekerja bisa menghasilkan karya dari hobi dan sekaligus aktualisasi diri.

Let's start 

Senin, 22 April 2024

A Song That is Me 2024

Tak Sengaja pagi ini mendengar lagu ini di radio saat perjalanan ke kantor.

Pertama kali dengar dan langsung merasa kalau lagu ini sedang menceritakan keadaanku saat ini.

Malam yang berat aku lalui setelah aku menyampaikan isi hatiku yang sudah kutahan lama.

Sedih. Hancur. Kecewa. Lega. Semua rasa bercampur.

Entah ujian apa lagi yang harus aku lalui. 

Bolehkah aku berhenti sejenak untuk menangis. Dada ini terasa sesak. Penuh banget.

3 tahun yang dijalani di atas benang harapan yang begitu tipis sampai di titik aku ragu apakah akan ada ujung yang jelas atau akan terus was-was berjalan. Apa aku putuskan untuk terjun saja?

A song by Ziva M.

Lyrics: 
Coba.. coba menatap kesana Adakah jalannya? Kita akankah berakhir bersama? Ataukah tak bisa? Mimpi tapi tak berani Ingin pergi tak bernyali Bahagia di ujung hari Akankah terjadi? Tapi munafik ku menunggu tak tentu Bila tak kunjung datang kepastian tentang waktu Ku menunggu harimu tak ragu Yakinkan diriku kita tak sekedar buang waktu


Aku kehilangan keyakinan itu.

It's too draining. Aku lelah dan ingin berhenti.

Seumur hidupku aku sudah berusaha bertahan untuk kuat sendiri.

So.. here I am. Feeling so alone. Finding my own happiness



Update: Agustus 2024

Benar saja, kondisi hubungan ini semakin tidak jelas. 3 minggu tidak bicara. kembali berulang karena tidak pernah diselesaikan. Selalu dibiarkan saja.

Lelah dan frustasi.

Ingin akhiri tapi tidak berani.

Benar-benar lelah. 

Menumpuk pekerjaan, pasangan, -- mulai hampa karena seperti kehilangan Tuhan